Monday, March 28, 2011

Mengolah Wafer dan Buah Rendah Kalori


KOMPAS.com - Wafer tanpa kandungan gula bisa menjadi pilihan camilan rendah kalori. Agar tak bosan makan wafer tiga kali saat waktu snacking dalam sehari, Anda bisa mengkreasikan dengan buah segar, jus buah tanpa gula, atau bahkan tuna. Chef Michael Whyag dari Red Pepper menciptakan sejumlah variasi wafer untuk snacking yang enak dan menyehatkan.

"Snacking bisa tetap enak namun bertanggungjawab," kata Chef Michael, saat bincang-bincang bertema "Happy Healthy Snacking Time" yang diadakan Tango di Plaza Indonesia, Jakarta, Senin (28/3/2011).

Menurut Chef Michael, snacking identik dengan makanan manis dan renyah. Agar waktu ngemil tak terlewati, snackseperti ini sebaiknya jangan diabaikan, namun di sisi lain pastikan juga kalorinya rendah, dan rasa manisnya didapatkan dari bahan alami. Untuk itu, Chef Michael berkreasi dengan wafer renyah tanpa gula yang dikombinasikan dengan strawberry, pir, jus mangga, ogura cream, hingga tuna.

"Mengkreasikan wafer Tango juga bisa dilakukan bersama anak-anak, misalnya sebagai permainan saat ulang tahun. Menciptakan kreasi camilan juga melatih motorik anak-anak. Misalnya dengan membuka lapisan wafer menjadi tiga, lalu sisipkan potongan buah pir di sisi satu, dan potongan strawberry di sisi lainnya," tutur Michael.
Jus mangga kental tanpa gula juga bisa dikombinasikan dengan wafer renyah. Caranya, jadikan buah mangga segar yang diblender sebagai topping di atas wafer renyah. Hasilnya, Anda akan mendapati camilan segar hanya bernilai 80 kkal. Nilai kalori ini masih jauh di bawah batas maksimal camilan, 150 kkal per porsi.

"Sangat mudah membuat kreasi camilan dengan wafer Tango Less Sugar. Wafer Tango rasa cokelat dipadukan dengan jus mangga, dan wafer vanilla dengan pir dan strawberry, dapat disajikan dalam satu menit saja. Snacking itu mudah dan menyenangkan, selama produk dasar yang digunakan bagus. Selain itu jelas kalorinya, serta bahaya atau tidak," jelasnya.

Pilihan lain kreasi camilan wafer kreasi Chef Michael di antaranya Tango Chocolate in Ogura Cream and Pears yang bernilai kalori 90 kkal per porsi. "Cream artinya sesuatu yang di-blend, sedangkan ogura adalah kacang merah yang direbus lalu diblender. Ogura dan potongan buah pir dijadikan lapisan di setiap sisi wafer yang bisa dibuka menjadi dua bagian," jelasnya.

Kreasi wafer untuk camilan agar snacking tak membosankan ini lebih rendah kalori. Anda bisa mencipta camilan enak dan lebih menyehatkan dibandingkan dengan poffertjes yang bernilai lebih dari ratusan kkal per porsi (satu porsi isi tiga), atau jajanan pasar bernilai 197 kkal per porsi. Selain itu juga lebih baik dari sandwich yang bernilai 132 kkal per porsi.

Rully, Bisnis Perlu Kerja Keras

KOMPAS.com - Berbisnis itu perlu kerja keras, kalau perlu mulai dari bawah. Itulah prinsip yang selalu dipegang oleh Rully Susanto. Itu pula yang membuat usaha kulinernya menjadi maju seperti sekarang.
Telaga Seafood Restaurant yang dikelola Rully dan keluarganya dikenal sebagai salah satu tempat makan paling ramai di Serpong, Tangerang Selatan. Selain menyajikan hidangan lezat, suasana di restoran ini pun begitu luas dan nyaman.

Berbisnis kuliner seperti ini pada awalnya bukan profesi pilihan Rully. Lulusan Jurusan Desain Grafis Institut Kesenian Jakarta itu lebih suka menggeluti bidang seni ketimbang meneruskan usaha restoran yang sudah digeluti oleh orangtuanya sejak 1989.

"Entah kenapa saya tidak terlalu suka dengan bisnis sukses hasil pemberian dari orang di atas kita. Saya lebih condong menyukai seni, kerja keras dalam merintis bisnis, dan dimulai dari bawah," jelas Rully saat ditemui Kompas.com di Telaga Seafood Restaurant, Jalan Raya Serpong Kavling Komersial No. 6, Serpong, Kota Tangerang Selatan.

"Ya, ada saja mungkin, orang sukses yang sudah anak orang kaya dari sananya. Memang enggak salah, tapi kalau saya pribadi lebih suka dengan yang dimulai dari grassroot," tambahnya.
Karena tak mau nebeng usaha orangtuanya, Rully kemudian memutuskan untuk bekerja sebagai desainer grafis di penerbitan buku Kepustakaan Populer Gramedia. Belasan tahun ia menekuni bidang ini sampai pada suatu titik, ia akhirnya berkeputusan untuk terjun dalam bisnis penggoyang lidah. "Kami lima bersaudara di rumah akhirnya turun tangan semua membantu usaha bokap (bapak). Semuanya berlima ikut kerja dan turun tangan," tambah Rully yang sempat mengenyam pendidikan sekolah dasar di Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Hasilnya kurang lebih bisa terlihat hingga sekarang. Total sudah ada tiga restoran Telaga Seafood yang berdiri. Restoran pertama berdiri pada 2004 di Kota Modern, Tangerang, Banten. Dua tahun kemudian, ada lagi di Cibubur, Jawa Barat. "Tahun 2008 di BSD City," tandas Rully yang masih suka menuangkan idenya dalam bidang desain grafis.

Selama berkecimpung dalam bisnis kuliner, Rully sangat menjaga kualitas layanan dan makanan yang disajikan. Tidak mudah baginya untuk menyerahkan tanggung jawab itu kepada orang lain untuk berpikir dan menelurkan ide sebagaimana dikehendakinya. Alhasil, Rully dan keluarganya pun masih sering turun tangan hingga menghadapi tuntutan konsumen secara langsung.

Pernah Rully mendelegasikan pengelolaan Telaga Seafood ini kepada beberapa manajer. Apa mau dikata, hasilnya ternyata kurang memuaskan. Ia kemudian mengambil kembali pengawasan sentral restoran ini. "Saya benar-benar koordinasi dengan abang dan adik saya dalam pengeloaan rumah makan. Mulai dari konsep arsitektur, penyajian, dan pelayanan," katanya.

Konsep arsitektural di Telaga Seafood Restaurant BSD City ini ia membuat dengan konsep gabungan antara tradisional dan modern. Rully pun mengaku sangat intensif berdiskusi dengan saudara-saudara kandungnya soal konsep dan kualitas rumah makannya.

Dalam pengelolaan dan manajemen, ketiga restoran Telaga Seafood dikelola dengan sistem rekanan dan bukan waralaba. Dengan sistem seperti ini, Rully dan keluarganya tetap dapat menjaga standar kualitas dan pelayanan.

Telaga Seafood Kota Modern, misalnya, merupakan hasil rekanan antara Telaga Seafood Restaurant dengan pengembang Kota Modern Tangerang. Konsep yang sama berlaku bagi Telaga Seafood Cibubur. Restoran Telaga Seafood di Cibubur terbentuk atas kerja sama Telaga Seafood dengan investor di Cibubur. Khusus restoran di BSD City ini, ia dan keluarganya mengelola sendiri segala urusan mulai dari dapur hingga manajemen restoran.

Monday, October 18, 2010

Pribadi Sukses Yang Sehat dan Layak diikuti

Menurut Mr. Jennie S. Bev, yaitu seorang konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator bertempat tinggal di San Francisco Bay Area dan Beliau merupakan seorang Indonesia yang “sukses” berkompetisi pada iklim “ketat” Amerika. Beliau mengedepankan 10 unsur kepribadian seorang sukses (baik dari segi keuangan dan prestasi) yang berdasarkan pada komunikasi dan pergaulannya dengan para billionaire dan beberapa pengusaha sukses.
 
Sepuluh sikap yang harus dipunyai itu adalah sebagai berikut:

Pertama, Keberanian untuk berinisiatif :
Kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia atas kesuksesan orang-orang terknenal yaitu mereka selalu punya ide-ide cemerlang! Lihat saja : Seorang Donald Trump yang “mendunia” karena superioritasnya di bidang Real Estate awalnya berproses dari status bangkrut dan akhirnya berpredikat Raja Real Estate, adalah contoh dari seorang yang jenius dan berani berinisiatif. Kita tentu mengenal serial TV The Apprentice, kontes Miss Universe, Online University bernama TrumpUniversity.com, bahkan di negara asalnya boneka Donald adalah sebuah icon dan produk laris selain buku-buku bestseller-nya. Dan inisiatif adalah kekayaan semua orang, tinggal orang itu mau atau tidak untuk berinisiatif mengemukakan ide-idenya.

Kedua, Tepat waktu :
Sebuah hal yang pasti untuk semua orang di dunia ini tanpa terkecuali adalah bahwa kita memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kemampuan mengatur/manage sesuatu yang paling terbatas tersebut. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan kolega dan mitra kita.

Ketiga, Senang melayani dan memberi:
Sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin, namun sebuah additional attribute dari sikap kepemimpinan adalah kebiasaan melayani dan memberi. “The more you give to others, the more respect you get in return” Dan, keikhlasan adalah kunci untuk sifat ini. Kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan ikhlas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai bonus saja!. Tetapi, setidaknya dengan memberi dan melayani berarti menunjukkan kepada teman, kolega serta rekan kita betapa suksesnya diri kita sehingga membuat orang lebih yakin bermitra dan bergaul dengan diri kita.

Keempat, Membuka diri terlebih dahulu:
Barangkali kita pernah bertemu orang yang selalu mau tahu tentang hal pribadi orang lain namun dia terus menutup diri agar jati dirinya tidak terbuka. Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, dan selalu berprasangka buruk kepada siapa saja yang dijumpainya. Sikap ini adalah unsur yang tidak dimiliki banyak orang sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, itulah yang dicari oleh para partner sejati dan sebagian besar dari kita akan setuju bahwa tidak banyak orang yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius, betul kan?

Kelima, Senang bekerja sama dan membina hubungan baik:
Kemampuan bekerja sama dalam tim adalah salah satu kunci keberhasilan utama.
Kembali kita mengambil contoh Donald Trump. Dalam serial TV The Apprentice, Trump memiliki tim yang loyal dan menjadi perpanjangan tangan dirinya dalam menemukan para calon “orang kepercayaan” yang baru. Pada akhirnya, Trump akan memiliki sebuah tim yang sangat loyal dan bervisi sama dengan menciptakan jaringan kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses itu semakin terbuka lebar.

Keenam, Senang mempelajari hal-hal baru:
Ciputra dan Aburizal Bakrie adalah seorang yang bisa dikatakan sebagai orang sukses dalam bidangnya yaitu commerce. Tapi saat mereka mendirikan universitas, apakah mereka beralih sebagai seorang pendidik? Atau mereka sendiri sebenarnya adalah profesor? Jelas tidak, mereka tetap seorang entrepreneur, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung menerapkannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas baginya. Dunia bisnis ibarat sebagai tempat bermain yang laus dan tidak terbatas. Jadi senang belajar dan mencari hal baru adalah sebuah sikap kesuksesan.

Ketujuh, Jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama:
Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good days and great days.”
Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik jika kita tidak pernah mengeluh, walaupun suatu hari mungkin kita akan jatuh dan gagal.
Mengapa?
Karena setiap kali gagal, itu adalah kesempatan bagi diri kita untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana kita gagal tetap sebagai a good day (hari yang baik).

Kedelapan, Berani menanggung resiko:
Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great day. Jadi, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi bukan?. Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari dan tentunya ambang kepada kesuksesan akan lebih dekat.

Kesembilan, Tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat):
Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi kita berada.
Jika kita gunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya. Semakin positif kita menyikapi hambatan, semakin besar kesempatan kita menemukan penyelesaian atas hambatan tersebut.

Kesepuluh: “Comfortable in their own skin” Menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan bicaranya.
Pernah bertemu dengan orang sukses yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Tidak ada tentunya. Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri.

Sikap dasar orang sukses tersebut di atas barangkali dapat menjadi cerminan dan memuluskan langkah kita untuk mencapai kesuksesan yang kita impikan, tinggal kita yang memutuskan. (www.beranda-jiwa.info)

Monday, October 4, 2010

RAAM PUNJABI HOME


Raam Jethmal Punjabi

Raja Penjual Mimpi Bertangan Dingin


Perjuangannya dimulai dari titik nol. Dia raja sinetron penjual mimpi bertangan dingin. Dia dipuji sebagai penyelamat industri film Indonesia, di sisi lain ia dianggap menjual mimpi. Tapi ia konsisten dengan apa yang dikerjakannya. Kota Pahlawan memberinya banyak kenangan dan inspirasi untuk meraih sukses.

Kota Surabaya di pertengahan tahun 1950-an, akan terus terpatri dalam ingatan seorang laki-laki keturunan India. Tentang seorang bocah kecil belasan tahun bernama Raam yang menyelinap ke dalam sebuah bioskop untuk memuaskan kegandrungannya menonton film. Sang penjaga bioskop yang baik membantu menyelundupkannya masuk ketika lampu-lampu sudah dipadamkan dan membantunya keluar sebelum lampu-lampu menyala kala film usai.

Laki-laki itu, Raam Punjabi, adalah si bocah yang gandrung film. Kini, ia tak lagi harus menyelundup diam-diam hanya untuk menonton film-film yang disukainya. Dialah yang kini disebut-sebut merajai dunia sinetron di televisi. Berbagai film dan sinetron yang sukses lahir dari tangan dinginnya.

Diakuinya, ketertarikan anak ketiga dari tujuh putra-putri pasangan Jethmal Tolaram Punjabi dan Dhanibhai Jethmal Punjabi ini pada dunia perfilman sudah dirasakannya sejak ia masih kecil. Hobinya yang paling menonjol tentu saja menonton film dan ia punya kebiasaannya keluar masuk bioskop.

Dalam beberapa hal, persahabatan itu seperti cerita film “Cinema Paradiso” karya Tornatore, sebuah film indah tentang kenangan. Bedanya, di dalam “Cinema Paradiso”, persahabatan terjalin antara si bocah dan proyeksionis, sedangkan pada Raam kecil dengan penjaga pintu.

Raam pun berkisah, ”Pernah imbalannya saya boleh menonton, tetapi si penjaga pintu pinjam sepeda saya. Eh, sampai film selesai pukul dua belas malam, dia tidak kembali. Saya pulang ke rumah dimarahi Ayah.”

Tentu saja hal itu tidak membuatnya kapok. Ia kembali pergi ke bioskop, menemui sahabatnya si penjaga pintu dan menyelundup ke dalam bioskop setelah lampu padam.
Raam mengenang masa kecilnya di Surabaya sebagai masa yang indah dan penuh romantisme. Rumah orangtuanya terletak di kawasan Pasar Besar. Rumah itu merangkap toko ayahnya. Di lantai bawah, sang ayah berjualan karpet. Raam juga masih ingat, di masa itu masih ada trem atau kereta listrik sebagai alat transportasi yang digemari masyarakat di kotanya.
 
Pengalaman yang selalu membuatnya geli selain menonton bioskop diam-diam adalah mencuri mangga yang pohonnya berada di halaman sebuah rumah sakit. Kesukaannya pada film juga disalurkannya dengan ikut serta menonton film gratis yang diputar khusus untuk tentara.

Pencipta tren

Raam Jethmal Punjabi lahir di Surabaya, 6 Oktober 1943. Awalnya ia tidak serta merta berkecimpung di dunia perfilman. Dari tahun 1962-1963, ia bekerja di sebuah perusahaan tekstil. Pada tahun 1964 ia merintis sebuah usaha impor tekstil sampai pada akhirnya pada tahun 1969 ditinggalkannya.

Pada tahun 1967, Raam bersama dua kakaknya Dhammoo Punjabi dan Gobind Punjabi mendirikan perusahaan importir film, PT Indako Film dengan modal Rp 30 juta. Tiga tahun kemudian, ia mendirikan PT Panorama Film (1971-1976) yang bersama PT Aries Internasional Film memproduksi film “Mama” karya sutradara Wim Umboh.

Film yang dibuat tahun 1972 itu merupakan film Indonesia pertama yang menggunakan seluloid 70 milimeter, tapi kurang laku ketika dilempar ke pasar. Tak putus asa, Raam kembali memproduksi film “Demi Cinta” yang dibintangi Sophan Sophiaan dan Widyawati. Lagi-lagi film produksi keduanya ini termasuk biasa-biasa saja dalam peredarannya. Namun bintang terang menyinarinya saat memproduksi film ketiga berjudul “Pengalaman Pertama.” Film ini dibintangi Roy Marten, Yatie Octavia, dan Robby Sugara.

Saat ini Raam Punjabi menjabat sebagai Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri & Festival di Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI). Ia dikenal bisa membaca selera pasar dan menjadi trend setter perfilman. Pada tahun 1980-an ketika kondisi perfilman Indonesia sedang terpuruk, Raam malah sukses menelurkan film komedi di jagat perfilman Indonesia dengan menampilkan bintang komedi pada saat itu trio Warkop (Warung Kopi) yaitu Dono, Kasino dan Indro. Malah sejak itu film komedi menjadi tren dan banyak produser mengekor membuat film-film komedi.

Tahun 1981, Raam mendirikan PT Parkit Film. Dan dalam jangka waktu 17 tahun karirnya sebagai produser, ia sudah memproduksi lebih dari 100 film. Bahkan, sekitar tahun 1989 kala kondisi perfilman Indonesia benar-benar hancur, Raam tidak kehilangan akal. Dengan segala daya kreatifnya, ia segera beralih ke dunia sinetron yang pada saat itu baru dikenal sebagai jenis tontonan baru. Kebetulan, di saat hampir bersamaan muncul stasiun televisi swasta pertama yaitu RCTI.

Bagi Raam yang jeli, hal itu merupakan peluang yang baik bagi terobosannya. Terbukti kemudian, serial sinetron komedi “Gara-Gara”, yang dibintangi Lydia Kandou dan Jimmy Gideon yang diproduksinya sukses. Melambungkan kembali nama Lydia Kandou dan menambah ketenaran Jimmy Gideon tidak hanya sebagai pelawak, tetapi juga pemain sinetron komedi.

Kesuksesan demi kesuksesan mendorongnya mendirikan rumah produksi PT Tripar Multivision Plus dengan modal Rp 250 juta pada tahun 1990. Rumah produksi ini juga memproduksi sinetron-sinetron yang sukses digemari masyarakat.

Hingga tahun 2000-an tidak ada yang bisa menyaingi kebesaran Raam Punjabi dalam industri hiburan televisi, terutama film dan sinetron. “Film dan sinetron di Indonesia di bawah bayang-bayang keluarga Punjabi, dengan Raam yang berada di singgasana”, kata S. Sinansari Ecip dalam resonansinya di harian Republika, 28 Maret 2000.
Pada tahun 2004, Raam Punjabi menerbitkan biografinya yang berjudul “Panggung Hidup Raam Punjabi.” Buku itu memuat begitu banyak pengalamannya sampai menjadi sukses sebagai raja sinetron seperti sekarang. RH

Raam Jethmal Punjabi (2)

Dari Lingerie ke Layar Kaca


Di satu sisi ia dipuji sebagai penyelamat industri film Indonesia, di sisi lain ia dianggap menjual mimpi. Tapi ia konsisten dengan apa yang dikerjakannya.


Berkunjung ke kantor Multivision Plus, rumah produksi Raam Punjabi, maka kita akan menemukan beberapa wajah jelita dan ganteng para artis sinetron yang tengah diproduksinya tengah mengurus masalah kontrak atau hal-hal lain di kantor itu.

Paras yang rupawan memang ciri khas yang begitu menonjol dan tak dapat ditanggalkan dari sinetron-sinetron yang diproduksi Raam Punjabi. Semua artis pemainnya memiliki paras yang cantik dan ganteng. Cerita-cerita sinetronnya kebanyakan tentang tokoh-tokoh berwajah rupawan dari kelas menengah ke atas dan jalinan kisahnya sendiri terkadang terlalu dibuat-buat dan jauh dari realita. Hal itu menyebabkan berbagai kritik dilontarkan pada sinetron hasil rumah produksinya. Namun Raam tidak bergeming.

Bukan sekali Raam dituduh sebagai ”penjual mimpi”. Diakuinya sendiri, artis yang main di sinetronnya, apa pun perannya, harus cantik. ”Jangankan artis, di kantor saya semua cantik-cantik,” katanya sambil tertawa.

Namun bukan berarti ia mau menerima tuduhan menjual mimpi.

”Kalau saya gagal dalam usaha, bisa nggak saya pasang tulisan di sini: Toko Penjual Mimpi. Tidak mungkin, kan? Adakah orang yang membeli mimpi? Tetapi, kalau saya taruh di situ Raam Punjabi Penjual Harapan, saya jamin banyak yang datang. Persentase mimpi menjadi kenyataan itu nol koma sekian persen, tetapi kalau harapan jadi kenyataan itu banyak,” katanya panjang lebar.

Menurutnya, istilah ‘menjual mimpi’ itu salah. Namun meski ia ingin sekali menjelaskan perbedaan antara mimpi dan harapan yang dimaksudnya, Raam mengaku tidak punya cara dan waktu untuk menyosialisasikan pikirannya dalam bentuk tulisan. Ia hanya percaya pada karya dan perbuatan.
Apapun tuduhan orang, tidak bisa dipungkiri bahwa Raam amat konsisten dengan apa yang dikerjakannya. Itulah kunci kesuksesannya sebagai raja sinetron saat ini.

Bukan berarti apa yang dijalaninya terasa mudah. Raam pernah merasakan pahit getir dan susahnya kehidupan ketika usianya masih relatif muda. Di usia belasan, ayahnya meninggal dunia. Dengan restu ibunya, Raam muda nekat pindah ke Jakarta untuk mengadu nasib.

Awal kehidupan di Jakarta dia lalui dengan menjadi pegawai toko kain di kawasan Pasar Baru. Setelah itu, Raam mencoba berjualan sendiri dengan cara door to do. Barang yang dijualnya antara lain kemeja merek Arrow, juga lingerie alias pakaian dalam wanita.

Soal pengalamannya menjual lingerie inilah maka Raam sambil tertawa berkata, “Dengan hanya melihat luarnya, saya bisa tahu ukuran seorang wanita.”

Setelah menikahi Rakhee, Raam dan isterinya mengarungi pasang surut dunia perfilman. Pada awal tahun 1970-an, saat dunia perfilman Indonesia mulai ramai, Raam memulai debut dengan memproduksi film “Mama”. Film berbiaya besar yang disutradarai Wim Umboh itu ternyata gagal.

Disinilah konsistensi Raam diuji. Ternyata ia tidak pernah menyerah. Setelah terus mencoba, akhirnya kesuksesan diraihnya saat memproduksi film-film bergenre komedi. Film-film yang dibintangi Wakop DKI (Dono-Kasino-Indro) itu antara lain berjudul: “Dongkrak Antik”, “Maju Kena Mundur Kena”, “Gantian Dong”, sampai sekarang masih sering diputar ulang di televisi.

Zaman film layar perak berganti dengan sinetron dan Raam tetap survive. Sinetron “Gara-gara” yang sukses disusul sinetron komedi seperti “Tuyul dan Mbak Yul”, juga sinetron drama seri, diantaranya “Doaku Harapanku.”

”Di dunia hiburan, kalau mau bikin komedi Anda harus ciptakan salah pengertian. Kalau mau bikin drama percintaan, Anda harus ciptakan saling pengertian,” kata Raam.

Soal moralitas

Saat ini, dunia hiburan yang paling banyak menyedot perhatian masyarakat adalah sinetron. Kegandrungan masyarakat di kota dan desa terhadap sinetron digerakkan oleh cita rasa yang sama. Baik film maupun sinetron, telah menjadi magnet yang menyedot kesadaran penontonnya. Ini budaya massa yang didalamnya terkandung ikon-ikon yang pengaruhnya menghujam kesadaran pemirsa.

Tanpa disadari apa yang disuguhkan sinetron kerap ditiru oleh penontonnya. Dari hal-hal yang ringan seperti mode pakaian, rambut, sepatu dan aksesoris sampai hal-hal yang patut dipertimbangkan seperti etika, moral dan tingkah laku.
Di tengah-tengah gempuran aneka judul sinetron yang diputar setiap hari, menjadi sulit menyaring mana sinetron yang berdampak baik maupun buruk bagi penontonnya.

Raam Punjabi, sang raja sinetron yang sinetronnya paling banyak bertaburan di televisi kemudian ikut dituding sebagai salah satu pihak yang ikut menyebabkan degradasi moral. Sinetron Raam kerap kali mengeksploitasi kemewahan gaya masyarakat urban kota metropolitan. Disusul kemudian, salah satu film Raam yang berjudul “Buruan Cium Gue” pernah menimbulkan polemik dan akhirnya dicabut dari peredaran.

Namun, Raam Punjabi berkilah pihaknya tidak pernah membuat produk sinematografi yang merusak moral bangsa Indonesia. Menurutnya, tidak ada satupun rumah produksi yang punya tujuan dan niat merusak moral dan akhlak bangsa, serta merusak jalan pikiran orang. Semua beranjak dari satu niat yang murni untuk memberikan hiburan dan sesuatu yang baik bagi masyarakat.

Raam menampik anggapan masyarakat bahwa produk sinetron dan film yang dia hasilkan hanya semata menjual kemewahan dan mimpi.

”Yang saya ingin bangkitkan adalah harapan dan semangat dan itu terlihat jelas dalam produk kita," ujarnya.
Menurut dia, wajar saja bila ada masyarakat yang menolak sinetron dan filmnya karena tidak sesuai dengan moral dan nilai-nilai ketimuran. Beda pendapat sah-sah saja dan selera berbeda itu tidak apa-apa. Kalau ada yang merasa produk itu tidak cocok dengan seleranya dan tidak mau menonton itu hak masing-masing.

Multivision Plus sesungguhnya tidak selalu memproduksi kisah-kisah bertabur kemewahan. Tahun 2001, mereka memproduksi sinetron serius yang diberi judul "Tiga Perempuan". Pemeran utamanya dipercayakan kepada Christine Hakim dengan sutradara Maruli Ara. Mereka juga pernah memproduksi sinteron yang berjudul "Bukan Perempuan Biasa", sebuah sinetron yang juga menampilan Christine Hakim sebagai pemeran utama di bawah arahan sutradara kondang Jajang Pamuntjak.

Raam hanya mencoba untuk membuat sinetron atau film yang disukai, diinginkan dan menjadi tren masyarakat sesuai dengan komitmennya memajukan industri sinetron dan film Indonesia.

Komitmen, semangat dan kegigihan dari seorang Raam Punjabi patut diteladani. Dari seorang penjual lingerie menjadi raja sinetron, bukankah itu sesuatu yang luar biasa. (www.tokohindonesia.com, 2010)

Bob Sadino Pengusaha Berdinas Celana Pendek


 
Bob Sadino
Pengusaha Berdinas Celana Pendek

Pria berpakaian ''dinas'' celana pendek jin dan kemeja lengan pendek yang ujung lengannya tidak dijahit, ini adalah salah satu sosok entrepreneur sukses yang memulai usahanya benar-benar dari bawah dan bukan berasal dari keluarga wirausaha. Pendiri dan pemilik tunggal Kem Chicks (supermarket), ini mantan sopir taksi dan karyawan Unilever yang kemudian menjadi pengusaha sukses.

Titik balik yang getir menimpa keluarga Bob Sadino. Bob rindu pulang kampung setelah merantau sembilan tahun di Amsterdam, Belanda dan Hamburg, Jerman, sejak tahun 1958. Ia membawa pulang istrinya, mengajaknya hidup serba kekurangan. Padahal mereka tadinya hidup mapan dengan gaji yang cukup besar.

Sekembalinya di tanah air, Bob bertekad tidak ingin lagi jadi karyawan yang diperintah atasan. Karena itu ia harus kerja apa saja untuk menghidupi diri sendiri dan istrinya. Ia pernah jadi sopir taksi. Mobilnya tabrakan dan hancur. Lantas beralih jadi kuli bangunan dengan upah harian Rp 100.

Suatu hari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa.

Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing.

Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feodal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasar swalayan) Kem Chicks. Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek.

Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah ke agribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayur untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah.

Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang.

Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob.

Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun ke lapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya. Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional.
Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain.

Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraih simpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya.

Bob menempatkan perusahaannya seperti sebuah keluarga. Semua anggota keluarga Kem Chicks harus saling menghargai, tidak ada yang utama, semuanya punya fungsi dan kekuatan.

Anak Guru

Kembali ke tanah air tahun 1967, setelah bertahun-tahun di Eropa dengan pekerjaan terakhir sebagai karyawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anak bungsu dari lima bersaudara, hanya punya satu tekad, bekerja mandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggal dunia ketika Bob berusia 19.

Modal yang ia bawa dari Eropa, dua sedan Mercedes buatan tahun 1960-an. Satu ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketika itu, kawasan Kemang sepi, masih terhampar sawah dan kebun. Sedangkan mobil satunya lagi ditaksikan, Bob sendiri sopirnya.

Suatu kali, mobil itu disewakan. Ternyata, bukan uang yang kembali, tetapi berita kecelakaan yang menghancurkan mobilnya. ''Hati saya ikut hancur,'' kata Bob. Kehilangan sumber penghasilan, Bob lantas bekerja jadi kuli bangunan. Padahal, kalau ia mau, istrinya, Soelami Soejoed, yang berpengalaman sebagai sekretaris di luar negeri, bisa menyelamatkan keadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ''Sayalah kepala keluarga. Saya yang harus mencari nafkah.''

Untuk menenangkan pikiran, Bob menerima pemberian 50 ekor ayam ras dari kenalannya, Sri Mulyono Herlambang. Dari sini Bob menanjak: Ia berhasil menjadi pemilik tunggal Kem Chicks dan pengusaha perladangan sayur sistem hidroponik. Lalu ada Kem Food, pabrik pengolahan daging di Pulogadung, dan sebuah ''warung'' shaslik di Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta. Catatan awal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulan perusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton daging segar, 60 sampai 70 ton daging olahan, dan 100 ton sayuran segar.

''Saya hidup dari fantasi,'' kata Bob menggambarkan keberhasilan usahanya. Ayah dua anak ini lalu memberi contoh satu hasil fantasinya, bisa menjual kangkung Rp 1.000 per kilogram. ''Di mana pun tidak ada orang jual kangkung dengan harga segitu,'' kata Bob.

Om Bob, panggilan akrab bagi anak buahnya, tidak mau bergerak di luar bisnis makanan. Baginya, bidang yang ditekuninya sekarang tidak ada habis-habisnya. Karena itu ia tak ingin berkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilan nyentrik ini, penggemar berat musik klasik dan jazz. Saat-saat yang paling indah baginya, ketika shalat bersama istri dan dua anaknya. (www.tokohindonesia.com, 2010)

Bob Hasan Raja Kayu dan Atletik


Bob Hasan
Raja Kayu dan Atletik

Nasib mujur masih berpihak pada Bob ‘Raja Kayu’ Hasan. Masa pengucilannya di penjara yang terkenal seram, LP Batu Nusakambangan, dipersingkat dari enam tahun menjadi tiga tahun. Karena berkelakuan baik, Bob diberi pembebasan bersyarat oleh Dirjen Pemasyarakatan Suyatno. Di balik terali besi pun, Bob menjadi motor penggerak para narapidana berkarya kerajinan batu mulia

Bob divonis enam tahun penjara oleh pengadilan karena tersangkut perkara korupsi. Semestinya Bom bebas bersyarat 11 Desember 2003. Namun keterlambatan proses administratif memperpanjang keberadaan Bob di LP Nusakambangan, penjara buat penjahat kelas kakap yang diwariskan pemerintah kolonial Belanda.

Bob, di era orde baru merajai bisnis perkayuan berkat kedekatannya dengan mantan Presiden Soeharto. Di antara puluhan konglomerat hitam di era Pak Harto, hanya Bob yang terkena jeratan hukum.

Kediaman Bob di Jalan Senjaya I Nomor 9 Kebayoran Baru, Jakarta, tampak lebih ramai di hari kebebasan Bob. Mobil-mobil mewah keluar-masuk dari rumah besar yang di dalamnya ada lapangan tenis dan kolam renang. Hari kebebasan Bob bersamaan dengan pengajian Jum’atan anggota Yayasan Iqra Qurani, dan puluhan anak asuh keluarga Bob.

Selain pengusaha, Bob dikenal sebagai tokoh olahraga. Meskipun baru lepas dari penjara, Bob masih dipercaya memimpin Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) sampai tahun 2008. Bob memegang jabatan itu selama tujuh periode berturut-turut sejak tahun 1976.

Memang jatuh bangunnya dunia atletik tidak bisa dipisahkan dari sosok Bob, anak angkat mendiang Jenderal Gatot Subroto. Gatot Subrotolah yang memperkenalkan Bob pada Pak Harto. Bob, meskipun hanya tiga bulan, pernah duduk di kursi Menteri Perindustrian dan Perdagangan.

Pengrajin Batu Mulia
Di balik terali besi pun, Bob masih mampu menjadi motor yang menggerakkan motivasi para narapidana. Kerajinan batu mulia di LP Batu Nusakambangan maju pesat berkat keteladanan dan kepiawaian Bob. Ia menggunakan uangnya untuk memajukan kerajinan yang memberi ketrampilan dan pekerjaan bagi para Napi. Di dalam penjara pun, Bob masih memimpin puluhan perusahaannya.

Kerajinan batu mulia sebenarnya sudah lama dirintis di penjara tersebut, tetapi dikerjakan sambil lalu. Batu mulia yang diproses para napi diambil dari kerikil sungai di kawasan Pulau Nusakambangan. Dengan peralatan seadanya, para napi memproses kerikil tersebut menjadi batu cincin dengan bentuk ala kadarnya.

Kehadiran Bob selama tiga tahun di Nusakambangan langsung membawa angin segar bagi para Napi dan petugas LP. Sebagai seorang tokoh berpengaruh, naluri positif Bob Hasan langsung bekerja.

Bob membiayai keberangkatan dua staf LP ke Bandung. Mereka membeli seperangkat mesin batu mulia, dari yang tradisional sampai yang menggunakan tenaga listrik. Sesampai di penjara peralatan tersebut ditiru dan diperbanyak. Sebanyak 40 Napi direkrut di antara 160 Napi, dilatih ketrampilan membuat batu mulia. Mereka menjadi pekerja bengkel batu mulia.

Mereka diberi imbalan jasa Rp 4.500 setiap hari, di mana Rp. 500 harus ditabung, Rp 500 untuk beli susu penambah gizi, Rp 500 untuk mencicil sepatu dan sisanya diserahkan ke koperasi LP. Bahan mentah yang diproses adalah obsidian warna-warni. Dengan desain yang sangat sederhana, produk LP Batu Nusakambangan yang diberi merek dagang Island Jewels dan embel-embel, exotic crystals from the heart of volcano atau eksotik kristal dari jantung gunung api, langsung menembus pasar domestik dan internasional.

Bob menyadari bahwa batu mulia yang diolah bukanlah batu mulia asli, tetapi batu mulia tiruan yang dihasilkan pabrik kaca. Yang jadi masalah, produk Island Jewels sudah terlanjur merebut hati para penggemarnya. Hampir saja Bob menutup bengkelnya. Tetapi tidak ia sampai kehilangan akal. Bob mendatangkan bahan baku batu mulia asli dari India. Bengkelnya bergairah kembali, para karyawannya tidak kehilangan pekerjaan. Bengkel Bob malah menambah karyawan dari 40 menjadi 60 Napi.

Tetapi bagaimana nasib bengkel itu setelah kebebasan Bob? Mungkin Bob tetap membina mereka dari luar penjara. Cabang-cabang produksi batu mulia merebak di Cilacap dan Pacitan, memberi sumber penghidupan bagi banyak orang. Bob tetap diharapkan oleh para pengrajin tidak melupakan kerajinan batu mulia. Yang disayangkan, Indonesia mengalami kelangkaan bahan baku karena batu mulia mentah mengalir deras ke luar negeri.

Tetap Dihormati
Naluri Bob tidak berubah, baik ketika berada di luar maupun di balik tembok penjara. Ia pandai membuka peluang, kemudian mengembangkannya menjadi bermanfaat bagi banyak orang.

Bob (73) juga pernah menjadi Ketua Umum PB PABBSI (angkat besi), PB Percasi (catur), PB Persani (senam) dan Presiden Asosiasi Atletik Amateur Asia (AAAA). Kini ia masih tercatat sebagai anggota kehormatan IOC dan salah satu Wakil Presiden OCA (Komite Olimpiade Asia). Sementara di KONI Pusat, Bob Hasan empat periode menjadi pengurus teras. Terakhir di era kepengurusan Wismoyo Arismunandar, ia duduk sebagai wakil ketua umum.

Keberhasilan ini menjadikan Bob tokoh yang tetap dicintai, disegani, dan dihormati, di manapun ia berada. Kunjungan 50 atletik, pelatih, dan ofisial, 18 Desember 2003, ke LP Batu Nusakambangan, usai mengukir prestasi di arena SEA Games XXII, Vietnam, menggambarkan kecintaan mereka pada Bob.

Bob dua kali mendapat predikat Pembina Olah Raga Terbaik dari SIWO/PWI Jaya, 1980 & 1984. Juni 1984, Bob menerima penghargaan Goldene Ehren Packeten dari Persatuan Atletik Jerman Barat (DLV) untuk jasa-jasanya meningkatkan hubungan atletik Indonesia-Jerman Barat. Dan, September 1985 Bob bersama Amran Zamzami dan Tahir Djide menerima tanda penghargaan pemerintah RI untuk Pembina Olah Raga Terbaik.

Keterlibatan The Kian Seng, nama asli Bob, dalam atletik bermula dari rasa sakit pada bagian belakang lehernya kalau tangannya digerakkan keluar. Atas anjuran seorang teman, ia melakukan olah raga lari dan senam. Ternyata, manjur, Bob belakangan berlari paling sedikit 5 km sehari. Kalau tidak lari, badannya merasa sakit.

Lewat dukungan dana dari belasan perusahaan, Bob menghabiskan milyaran rupiah untuk pembinaan olah raga, khususnya atletik. Ia juga gemar bermain golf, yang dilakukannya dua kali seminggu. Bob turut duduk dalam kepengurusan Persatuan Golf Indonesia (PGI).

Bob sendiri ‘maniak’ olah raga lari. Belasan tahun ia setiap hari berlari mengitari Stadion Utama Senayan, Jakarta, atau naik turun bukit kecil di depan stadion. Ketika berlari, Bob tidak memilih waktu, hari hujan atau di siang bolong. Kalau sedang di luar negeri, dan menginap di hotel bertingkat, ia pantang naik lift, tetapi lebih suka mendaki dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. (www.tokohindonesia.com, 2010)